WUJUD NYATA SYUKUR

picture1hjhAda mahasiswa yang bertanya kepada saya, mas syukur itu sebenarnya wujudnya seperti apa sih?

Kata syukur sering diucapkan dan lumrah, bahkan banyak orang yang mengatakan sudahlah hidup disyukuri saja. Orang jawa punya pemahaman syukur itu ‘nrimo’.

Bersyukur adalah saat kita menerima yang menjadi ketentuan dari Allah, apa yang sudah diberikan oleh Allah, sudah diititipkan oleh Allah.

Namun seringkali dalam kelas pelatihan, saya sering menemukan bahwa kata syukur itu digunakan sebagai kontek yang menurut saya kurang tepat. Dimana akhirnya kata syukur itu sering mejadi sebuah “alat” untuk orang sebagai sebuah alasan untuk tidak bergerak. Jadi ada beberapa orang yang mengatakan sudahlah hidup disyukuri aja, ndak usah neko-neko, ada yang mengatakan kamu kok hidupnya ‘nggoyo’ (tidak pernah puas). Bahkan sering saya mendengar orang mengatakan syukur tetapi sebenarnya dia sedang pasrah bahkan menyerah.

Kenapa disebut pasrah, karena ada orang yang mengatakan hidup disyukuri saja, namun Ia berhenti bergerak, nyaman dengan kondisi saat ini dan tidak perlu lagi melakukan lebih, karena yang sudah saya terima ini sudah baik. Apakah ini bersyukur?

Contoh sebuah analogi handpone.

Kalau kita diberi sebuah hadiah berupa HP oleh teman kita, dimana itu adalah smartphone terbaru dengan kualitas dan fitur terbaik. Dimana seluruh fitur-fitur tercanggih ada di smartphone itu, dengan harapan kita pakai. Namun apa yang terjadi karena keterbatasan dan ketidak tahuan, maka smartphone itu hanya kita gunakan untuk menelpon dan sms?

Kira-kira kalau Anda yang memberikan smartphone yang canggih itu kepada teman Anda, dan hanya dibuat nelpon & sms, bagaimana perasaan Anda? Kalau saya, saya akan bilangi…ah kalau cuma dipakai untuk menelpon & SMS mendingan saya berikan handpone yang sederhana saja, ngapain aku belikan kamu HP mahal-mahal yang canggih, tetapi kamu hanya pakai untuk sms & telpon. Dimana ada HP murah yang bisa digunakan seperti itu.

Analogi HP ini juga bisa diibaratkan seperti rasa syukur.

Banyak orang diberikan sebuah fitur, sebuah atribut, ketrampilan oleh Allah yang kemudian justru tidak dioptimalkan. Bentuk syukur adalah menerima sebuah keadaan atau hasil, setelah berupaya maksimal. Maka syukur melalui 2 tahap, pertama adalah upaya, ikhtiyar, mengoptimalkan sumber daya sampai posisi terbaik kita. Namun apapun hasilnya kita serahkan dan terima dari Allah, inilah tahap kedua. Banyak orang mengartikan syukur itu ‘menerima’ saja dan itu lebih dekat kepada pasrah.

Maka, kesimpulannya mulailah optimalkan semua sumber daya yang kita miliki yang diberikan Allah berupa aset fisik, kecerdasan & hati untuk memberi manfaat kepada banyak orang. Dan masalah hasilnya bukan kita yang menentukan, hasilnya baru akan kita terima & nikmati atas ijin dari Allah, itulah wujud syukur.

Semoga bermanfaat karena tulisan ini adalah nasehat untuk diri saya sendiri.

Muhammad Amin
Personal Development Trainer
Penggerak Masyarakat

Ingin ngobrol dengan saya? Follow twitter saya di @amininspirator  & instagram @amininspirator

About admin

Muhammad Amin adalah seorang trainer profesional di bidang komunikasi dan pengembangan diri. Selain itu, Amin juga merupakan seorang penulis, coach, dan juga motivator.
This entry was posted in inspirasi, motivasi and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *